Balada Nasi Goreng dan Berat Badan

Bertahun-tahun lalu, saya selalu berjibaku dengan bagaimana mendapatkan berat badan normal, minimal di angka 4. Yah, dulu waktu masih muda berat badan saya hanya di angka 3 saja, begitu kurus. Sampai sering sakit hati sendiri ketika menyaksikan BMI di area kurang gizi.

Pada umur 25 tahun saya sudah berhasil stabil di angka 42kg. Bobot yang menyenangkan setelah bertahun-tahun susah payah mencapainya. Tapi umur memang tak bisa menipu, secepat-cepatnya sistem metabolisme tubuh pada akhirnya melambat juga. 

Mengapa saya bilang umur? Karena menginjak mendekati umur kepala 3, saya merasakan perbedaan pada sistem metabolisme tubuh yang melambat. Apalagi setahun belakangan punya masalah kontrol makanan yang terlalu lepas. Saya terlena dengan terbiasa susah naik berat badan dan lupa soal umur serta metabolisme tubuh.

Jadi karena sering pulang malam dan lapar, saya terbiasa untuk ngunyah. Hal yang biasa dikunyah itu semacam martabak, pizza, burger atau gorengan. Ketika pindah tempat kerja, saya pun sering pulang malam dan makan nasi goreng.

1603-Nasi Goreng

Iya, nasi goreng yang hampir 80% dalam setahun belakangan adalah menu makan malam saya. Awalnya saya bahagia ketika berat badan mudah mencapai 45kg. Tapi mulai menaruh curiga ketika naik lebih dari 5kg dalam waktu kurang dari 1 tahun. Biasanya kan setahun sekali naik 1kg.

Di sini saya merasa ada yang salah dengan kebiasaan hidup saya. Setelah ditelusur, tersebutlah kebiasaan makan nasi goreng setiap malam selama masuk kantor. Ditambah letak lokasi tinggal yang dekat dengan kantor, menyebabkan saya kurang berjalan kaki. Plus masih suka ikut ngemil makanan yang dipesan anak-anak kantor.

Hasilnya, ya berat badan naik!

Ke khawatiran saya mulai meningkat saat celana yang baru dibeli sudah hampir tidak muat lagi. Beli celana aja jarang, dapat yang oke di badan juga susah, ini lagi jadi sesak. Kan sayang kalau beli lagi. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk menata pola hidup dan makan!

Yang pertama dilakukan ialah mengurangi konsumsi makan nasi goreng. Iya, saya tidak bisa langsung memutus sesuatu hal yang sudah jadi kebiasaan lama. Harus perlahan-lahan tapi konsisten. Menghindari makan nasi terutama nasi goreng di malam hari.

Bagi banyak orang mungkin bisa memutus makan nasi begitu saja. Tapi saya kenal tubuh ini. Sekali saya berusaha ikutan saran teman-teman. Di mana tidak makan nasi dan menggantinya dengan oat. Hasilnya, saya kena serangan maag dari pagi-malam hari, mengkonsumsi obat maag cukup banyak dan muntah.

Karena memutus nasi bukan keputusan yang baik untuk tubuh saya. Tersiksa karena maag akut itu hanya bisa saya dan lambung ini yang bisa memahaminya. Akhirnya mengurangi makan nasi di malam hari. Pagi, siang dan sore makan seperti biasa.

Jika yang lain bisa memutus langsung hubungan dengan nasi yang katanya penuh gula serta karbohidrat. Saya belum bisa, maka digantikan dengan meminimalisir konsumsi makanan manis seperti kue, cake atau roti. Badan saya bisa toleransi dengan memutus makanan manis itu, jadi impaslah ya.

Sejak berat badan meningkat pesat, saya mulai mengurangi konsumsi kopi sachet’an dan menggantinya dengan kopi bubuk. Rasanya toh tetap kopi, dan efek kafeinnya lebih terasa. Menambahkan Teh Hijau dalam list minuman yang wajib dikonsumsi selain air putih, adalah trik terbaik dari saya.

Mengembalikan kecepatan metabolisme tubuh memang tidak mudah. Saya cuma bisa berusaha dengan mengkonsumsi hal-hal yang bisa meningkatkan metabolisme tubuh. Serta mengurangi makanan yang disinyalir jadi penyebab kenaikan berat badan.

Hasilnya, hmmm ya sekarang (sampai detik tulisan ini dibuat) sudah berhasil turun 2kg dan mempertahankannya untuk tidak naik lagi. Hal terpenting ialah kenali dulu tubuhmu sebelum mulai menata pola makan. Eh tapi yang sekarang ini intinya sih bye nasi goreng 😀

Leave a Reply