Berubah Seperti Berputarnya Waktu

Beberapa teman yang bertatap muka mungkin cukup terkejut dengan perubahan saya. Perubahan menurut saya adalah sebuah proses, tidak bisa seketika berubah. Ah, ini mungkin postingan akan jadi ajang klarifikasi dan pembenaran tentang perubahan itu. Anda bisa menutup tab dan mengabaikan isinya, namun jika masih menyimak pun saya berterimakasih 🙂

Persiapan Memang Tak Mudah

Pertanyaan serupa ‘woah kamu berubah, kok tiba-tiba banget kenapa?’ memang sudah saya prediksi akan muncul ya sebulan lah. Konsekuensi yang akan dihadapi, cukup berat. Karena menurut saya akan lebih ringan jika tanpa pertanyaan, namun hidup bersosialisasi tak mungkin tanpa pertanyaan kan?
Untuk beberapa teman yang sering bertemu mungkin akan paham alasan saya melakukan perubahan ini, tapi itu hanya sekelumit kecil saja dari banyak alasan. Saya sendiri melakukan perenungan yang cukup panjang untuk berubah, hitung saja tahunan. Jadi jika ada pertanyaan ‘mengapa tiba-tiba?’, saya bisa jawab “tidak tiba-tiba, sudah lama disiapkan, cuma kamu ga tau aja“.
Persiapan memang tidak mudah, iya saya akui itu. Banyak pergolakan batin, dan ketakutan-ketakutan yang bagi kebanyakan orang terlalu tidak masuk akal. Tapi saya memang mengalami fase takut. Sejak mulai dari keinginan itu muncul hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengenakan jilbab ini pun masih dibayangi rasa takut tersebut continue reading this. Oh ya, bukan masalah takut kepada Tuhan ya yang mengintai saya, karena bagi saya Ia tidak perlu ditakuti sebegitu ekstrim selama tidak melakukan kejahatan terhadapNya.
Yang paling susah adalah mempersiapkan mental, perlu bertahun-tahun saya memupuk kekuatan untuk berani berubah. Dalam proses ini saya sengaja untuk tidak menerjunkan diri ke sekumpulan orang-orang ‘beriman’, karena semata ingin menakar seberapa iman itu ada dalam diri saya. Seberapa besar sebenarnya keinginan itu mengakar dalam diri saya. Mungkin bahasa kerennya itu proses mencari jati diri, meski proses itu tak akan habis sampai akhir hayat.
Paradigma tentang berkerudung yang akrab dengan konotasi suci itu lumayan berat ya. Cibiran akan lebih banter terlontar kepada perempuan berjilbab dari pada yang tidak, dan seringnya itu muncul dari kalangan muslim sendiri. Ini salah satu hal yang membuat saya surut niat. Saya sendiri bingung apa hak mulut-mulut itu mencerca orang lain, bukannya mereka harus menjaga diri mereka juga? Salah satu teman memberikan wejangan yang membuat saya berpikir keras “berkerudung memang dianjurkan, tapi bukan berarti ia sang ahli surga yang selalu benar wis. Kita tetap manusia seada-adanya manusia“.
Yah, wejangan teman itu memang lumayan memperkuat…perenungan. Pun jika akhirnya tetap ada yang mempertanyakan “Kenapa?” …akhirnya saya bisa menjawab “Karena sudah waktunya.” Sama seperti hidup dan mati, semua terjadi karena sudah waktunya saja. Sesederhana itu saja. Tak akan ada seseorangpun tau kapan waktu itu akan tiba, dan alasan yang menyertainya. Sama seperti keputusan ini, semua berjalan seiring dengan waktu, datang karena sudah waktunya. Meski prosesnya memakan waktu lamaaaaaaaaaaaaaaaaa.

Tidak Ada Selebrasi

Memang kalau sudah jalannya hidup begini semua bisa selancar dan seringan mungkin. Dalam masa pencarian itu saya dikelilingi teman-teman yang baik serta hangat hatinya. Mereka mendukung setiap keputusan dan perubahan dari diri saya dan membesarkan hati saat sedang lemah. Jika dulu saya merasa gerah, bahkan berat sekali mengenakan selendang panjang plus baju panjang ini. Entah kenapa sekarang lebih diringankan. Oke, saya boleh bangga untuk ini kan?
Ketika tiba saya akhirnya mengenakan, ada satu yang termasuk fase berat. Saat banyak orang mengucapkan “selamat”, entahlah… bagi saya tidak ada hal dalam diri ini yang harus diselamati pun dirayakan. Atau ucapan “Akhirnya”, ini lebih membuat saya kaget, sejak kapan ada awal dan ini bukan akhir..pun kalian tidak menunggu apapun dari saya. “Akhirnya dibukakan jalan” sejak kapan jalan saya terhalangi? Ketahuilah jika ucapan-ucapan itu malah bikin akward seketika. Saya tidak bisa menjawab apapun, karena tak ada selebrasi apapun, hadeuh…sudahlah.
Mungkin …..itu wujud ucapan syukur mereka yang terdengar janggal saja di telinga saya. Tolong jangan diucapkan lagi ya, saya tak tau harus menjawab apa.

Masih Sama dan Terlalu Melankolis

Untuk beberapa teman, mereka sudah mendengar berkali-kali saya menyatakan ingin mengenakan jilbab. Bertanya kepada sabahat yang sudah tau pergolakan tentang jilbab ini bermula. Mungkin sampe mereka capek mendengar saya bertanya secara berkala tapi tetep ga pake-pake juga. Jawabannya sih semua santai, mungkin karena ini bukan kali pertama saya bertanya dan tetep belum memakai. Capek kali ya :)))
Ijin. Iya saya butuh ijin, untuk menguatkan hati. Banyak yang bertanya kenapa saya harus meminta ijin segala kepada banyak orang. Jujur, saya tidak tau jawabannya, hanya secara insting saja ingin bertanya. Mungkin waktu itu selemah-lemahnya kemantaban diri.
Tapi entah kenapa saat paling genting sebelum akhirnya memilih hari, saya malah menanyakan kepada teman saya mbak Nunik. Pertanyaan ter-tolol dan hampir membuat saya nangis sendiri. “Kamu ga papa kan kalau aku pake jilbab? Aku tetep akan sama kok ga berubah.” (Oh ya tentu saja saya bertanya hal serupa ke partner dan ibu, sih. Gak perlu dibahas kalo yang itu.).
Ini yang paling absurd memang bertanya kepada mbak Nunik, mungkin karena saya sudah menganggap dia seperti kakak perempuan saya sendiri di Jakarta. Bisa jadi saya mundurin waktu jika ia tidak mendukung keputusan saya. Syukurlah timing yang dipilih pas 🙂 Waktu itu saya hanya memantabkan diri bahwa ‘tidak akan ada perubahan dari diri saya. Tetap sama, saya adalah saya yang dikenal sebagai saya sebelum perubahan penampilan ini
terimakasih
🙂

Leave a Reply