idrak: Sepatah Nafas

Ada dalam satu waktu saya mempertanyakan tentang arti hidup dan tentang makna sebuah kematian. Tak jarang pula terbayang bagaimana kelak saya menghadapi masa terakhir nafas dalam hidup ini. Pemikiran ini membuat hati saya sering dilanda kerisauan yang teramat tidak bisa dijelaskan.

Kurang lebih semenjak 2015 pemikiran ini terus mengalir dan intensitasnya semakin tinggi pada 2016. Terlalu banyak pertanyaan dan permisalan yang akhirnya melahirkan kegundahan dalam jiwa. Saya mengakui tahap ini membuat hidup saya tidak tenang.

Saya kurang tahu apakah hal ini juga perah dialami oleh orang lain. Tapi untuk menenangkan diri saya meyakini jika tahap ini adalah proses yang harus dijalani saat menuju usia lebih tua. Hahahahaha..

Arti Hidup yang Penuh Misteri

Saya sendiri tak paham dengan pasti apa arti hidup ini, apa tujuan saya sebagai manusia dilahirkan dan diberikan waktu untuk belajar hingga memilih sesuai keinginannya.

Hahaha jika boleh jujur, pada tahap pertanyaan tentang hidup, saya mengalami fase sombong. Saya merasakan superior dari makhluk lain tiba-tiba hadir. Yah, lebih dari yang lain, ingin dipandang lebih, ingin diakui.

Bahwasanya manusia ialah makhluk sempurna pernah menghampiri kepala saya. Dan kesombongan sempat membuat saya tak dapat memandang dunia dengan adil, oh mungkin adil itu jauh dari insan manusia.

Tak lama kemudian pertanyaan tentang ‘apa itu manusia?‘ ‘sudah pantaskan saya disebut sebagai manusia yang adiluhung?‘ ‘apa saya sebagai makhluk telah memberikan yang terbaik sepanjang hidup?‘ ‘apa jumlah kebaikan saya sudah mampu meluruhkan kesalahan saya?‘ ‘apakah kesalahan saya akan luruh atau tetap ada?‘.

Pertanyaan tersebut tidak dapat saya jawab.

Mempertanyakan arti hidup membawa saya kepada pertanyaan tentang kualitas diri saya sebagai sosok manusia. Kemudian beralih pada kualitas diri sebagai makhluk yang mengakui memiliki iman. Hahahahahahahhaahahaha…

Yaps saya sempat mempertanyakan ‘apakah tuhan itu ada?‘ tapi pertanyaan tentang arti hidup membuatnya bungkam. Saya tak berani menggugat kesahihan tuhan, saya makhluk yang membutuhkan pegangan. Bagi saya biarlah tuhan tetap ada dalam diri saya sebagai teman kala saya merasakan sepi yang paling senyap.

Menerjang Makna Kematian Lebih Berat Lagi

1605-idrak-nafas

Sepanjang 2016 ini saya merasakan peralihan arti hidup jadi pertanyaan tentang kematian. Sejujurnya pertanyaan itu begitu berat untuk saya hadapi. Semua kesombongan sebagai manusia hilang sudah, luluh lantah.

Saya mengingat bagaimana kesalahan saya berbalik membesar dan mengejar. Bagaimana ingatan pada masa lalu membuat saya tenggelam pada kepiluan. Yang saya ingat adalah orang tua dan kelak saya pun jadi mereka kemudian akan menghadapi hal serupa.

Penyesalan selalu di belakang, kalau di depan namanya regristrasi. Yah, tahap memikirkan kematian membuat saya menyesali betapa kurang berkualitasnya hidup yang dijalani. Terseok-seok menghadapi pemikiran ini, bahkan belum sembuh hingga kini.

Trauma akan ketakutan-ketakutan ini terlalu membekas, bahkan mengalahkan trauma masa kecil saya.

Sudahkah siap kamu menghadapi nafas terakhir?‘ ‘Sudah cukupkah bekalmu menghadap tuhan?‘ ‘Sudah mampukah kamu mempertanggungjawabkan setiap halnya?

Tiga itu sudah mampu meluluh lantahkan kehidupan jiwa saya. Di tengah perjuangan menemukan jawaban dan mungkin lari dari pertanyaan itu, kehidupan saya terus berjalan. Berbagai keputusan penting pun harus saya jalani, perselisihan pun harus dihadapi, kekecewaan pun tak menghentikan hidup.

Hahaha, saya merindukan masa kanak-kanak yang begitu ringan hidupnya itu.

Sampailah pada titik saya sadar sudah lama tidak tersenyum, sudah lama tidak merasakan tertawa lepas, sudah lama wajah saya digelayuti kemasan suram. Hahahahaha lalu balik lagi, kalau muram gitu apa coba arti hidupmu? Makin tidak berkualitas kan jika terus tenggelam dalam kesuraman tersebut.

Pertanyaan tentang hidup dan kematian sampai sekarang tidak menemukan jawaban pasti namun menyisakan trauma jiwa. Tapi hidup terus berjalan bukan, saya harus menjalaninya. Paling tidak menjalaninya dengan sedikit lebih berkualitas dari sebelumnya (amiiiiin).

Yah itu tadi catatan menggantung saya tentang pertanyaan yang belakangan rajin mampir. Semoga tak membuat suram hari orang yang membacanya 🙂

 

2 thoughts on “idrak: Sepatah Nafas

  1. ini membuat saya harus membaca ulang untuk mencari maksud tulisan ini, dan ya iya pertanyaan2 itu juga sering mmampir di otak saya namun saya masih belum berani membahasnya

    btw idrak itu apa?

    1. Muahahahahaha, maaf om tulisannya murni curhat karena terlalu mbulet di kepala, ini udah disaring seringkas mungkin. ehehhehhehehe….membahasnya sangat berat om.

      idrak itu kalau dari KBBI artinya dalam keadaan merasakan, mencapai, mengetahui, menginsafi (sesuatu) yang diperoleh melalui pancaindra, akal, dan batin.

Leave a Reply