Proses Meyakinkan Diri Mau Menikah

– Postingan blog ini murni curhatan saat awal sebelum menuju persiapan pernikahan –

Masa sebelum memutuskan akan menikah adalah momen paling lambat yang saya alami. Di dalamnya penuh dengan gejolak yang mengejutkan. Bagi saya satu hari itu terasa begitu lama karena menimbang setiap kondisi, menelaah setiap kejadian yang pernah dilalui, mencari kesiapan dalam diri.

Saya akui, meyakinkan diri sendiri merupakan proses yang berat. Padahal situasi saya tidak rumit. Isi kepala sayalah yang terlalu rumit untuk bisa dipahami dengan mudah. Hahaha, namanya juga wanita.

Sudah Yakin Kamu Mau Menikah Dengan Dia?

Pertanyaan “Sudah yakin kamu dengan dia?” tak hanya sekali-dua kali meluncur dari kawan-kawan saya. Sesungguhnya pertanyaan itu kurang tepat untuk situasi saya.

Saya dan pasangan telah lama saling kenal, paham kebiasaan dan keseharian, komunikasi sejauh ini stabil. Meski terpisah lokasi yang cukup jauh (Jakarta – Jogja) sudah dalam tahap tidak lagi mempertanyakan sedang di mana, ada cewek tidak di sana, hingga tidak lagi bertanya tentang cinta.

Untuk beberapa orang dekat mungkin hubungan kami terlalu stagnan, pun tidak sering bertemu (kecuali kalau libur hari besar) sehingga banyak yang bertanya apakah masih atau tidak. Geli kalau ingat setiap bertemu rekan lama selalu pertanyaan yang sama.

Keyakinan pada pasangan bukan lagi hal yang ingin saya pertanyakan, keyakinan itu sebagian besar saya pindah bebankan kepada Tuhan. Biarlah beliau saja yang mengatur. Saya lebih menitik beratkan kepada keyakinan saya sendiri untuk menikah. Terlepas dari keinginan dan faktor umur ternyata keyakinan mau menjejakkan diri ke lembaga pernikahan lebih membebani.

Kurang lebih keleluasaan bertindak sebagai diri sendiri yang selama ini saya kenal, keleluasaan berkarya, keleluasaan bertemu dengan teman dan keleluasaan bekerja ialah pertimbangan berat di kepala. Meski kami sudah kenal lama, tapi yakin akan ada banyak hal yang terbatasi.

Pada akhirnya memang mendapatkan jalan tengah setelah kompromi panjang tentang pertimbangan di atas. Selama ini asas ‘Saya tak mau diperlakukan seperti itu, maka saya tak akan memperlakukan kamu seperti itu‘ tetap saya pegang dalam hubungan dengan pasangan di setiap kompromi.

Lembaga Pernikahan dalam Bayangan

 

Setelah kompromi akan hal-hal yang menurut saya cukup penting karena menyangkut urusan kebiasaan sebelum bersama dia. Dalam hal ini saya tinggal terpisah provinsi dan hidup sendiri dengan diri saya, pasti banyak hal yang tak ingin dilunturkan seketika atas alasan ‘kamu kan sudah menikah dan jadi istri‘. Bolehlah dibilang ego saya besar untuk tidak mau mengubah kebiasaan seketika.

Rasa syukur saya diberikan pasangan yang juga punya pertimbangan serupa. Bahwa memiliki pasangan yang baik tidak serta merta mengubahnya sesuai standar baik di mata kita dengan mengatasnamakan ‘Cinta’, ‘Pacaran’ dan lembaga lain. Kompromi itu bukan menghancurkan identitas pasangan.

Saya percaya lambat laun juga akan ada banyak pembelajaran tentang kebiasaan baru yang harus dibentuk, dan tentang hal-hal baik yang harus dimulai bersama. Pernikahan adalah tahap baru pembelajaran dalam hidup. Kurang lebih kami sepakat demikian, yang mungkin tidak mudah dipahami atau dilaksanakan.

Dalam hati saya pernah terbersit ketakutan akan pernikahan. Sedikit banyak cerita kehidupan pernikahan rekan membuat saya takut. Saya takut kehilangan jati diri karena terlalu mengagungkan lembaga pernikahan, saya juga takut perlakuan tak adil karena kacamata ‘posisi istri tak layak mendebat suami‘, saya takut tidak mampu mengurus rumah.

Ketakutan saya langsung redam ketika proses diskusi dan kompromi tentang pernikahan dalam bayangan masing-masing. Mungkin proses diskusi dan kompromi boleh dicoba untuk dilalui, sekedar menyamakan pandangan tentang pernikahan serta menyepakati aturan bersama untuk kebiasaan masing-masing.

Tancap Gas Menuju Pelaminan

Kerumitan dalam kepala saya sedikit banyak sudah terurai dalam proses diskusi dengan pasangan dan kontemplasi diri. Sekiranya sudah tak ada yang mengganjal untuk ditanyakan atau didiskusikan tentang keyakinan ini akhirnya sepakat untuk menikah.

Kami tidak melalui lamaran romantis, hanya kesepakatan untuk yakin mempersiapkan diri menikah. Ceritanya meski sudah tidak ada ganjalan dan siap menikah, nyatanya rencana itu terhalang dan sempat tidak tercapai tepat waktu a.k.a meleset lalu terlupakan.

Setelah sempat terlupa karena kesibukan masing-masing akhirnya urusan menikah yang tertunda jadi ganjalan di antara kami juga. Karena lumayan mengganggu dan jadi isu sensitif untuk masing-masing, kami memutuskan untuk Let’s DO IT in 2016!!

Saya karena di Jakarta jadi menyerahkan urusan lamaran keluarga kepada dia. Ini aneh kan, normalnya calon mempelai ada di sana. Tapi karena kondisi pekerjaan dan tidak dapat tiket balik, semua saya serahkan kepada dua keluarga. Lagi pula kami sudah sepakat menikah, orang tua saya tau jawaban saya, pihak pria juga tau jawaban saya. Tak ada ritual khusus.

Singkat cerita dalam waktu kurang lebih 3 bulan mempersiapkan ini itu, akhirnya saya dan pasangan resmi jadi suami istri. Untuk certita tentang persiapan-persiapannya lanjut dipostingan habis ini ya. Tulisan ini sudah panjang banget :))

DIY Wedding

Leave a Reply