Keterikatan dengan Mie Instant yang Susah Dipisahkan

Aha, ternyata saya ini bukan anak yang sehat-sehat banget kehidupannya. Sampai saat ini saya masih menggemari makan mie instan. Yah, sudah banyak teman mengingatkan jika “makan mie itu ga sehat” “jangan banyak-banyak makan mie” “mie bikin kanker”.

Bukan saya tidak peduli apa kata teman-teman saya soal mie ini. Tapi ada banyak kondisi di mana saya terpaksa makan mie instan. Yang paling relevan ialah praktis dan kondisi keuangan. Sebagai anak kos yang murni mengandalkan pendapatan sendiri, terkadang dihadapkan dalam kondisi keuangan serba mepet. Saya tak mungkin tidak makan, maka pilihan saya ada pada mie.

 

Bagi saya mie instan itu merupakan labirin selama saya hidup. Makanan yang kabarnya penuh MSG dan pengawet ini merupakan solusi saat lapar melanda, paling praktis dan ga ribet buatnya apalagi pas males.

Kalau ada teman yang bilang saya tak ingin hidup sehat, woh Anda salah. Saya juga mau hidup sehat. Saya tidak setiap hari makan mie juga, saya juga berusaha mengganti makanan instant itu dengan sajian lain. Tenang, saya masih tidak menghabiskan hidup untuk makan mie saja.

Mungkin teman-teman saya agak khawatir karena sekali makan mie instant biasanya menghabiskan 2 bungkus porsi normal atau 1 bungkus jumbo. Masih dengan tambahan telur, keju dan kornet ples bubuk cabe dan merica. Melimpah lah itu mie instant saya.

Mie Instant memang tidak sehat, saya akui itu. Kalau makan mie, untuk “ke belakang” akan butuh waktu lebih lama. Kalau terlalu sering perut jadi njembling ga cantik karena tumpukan urusan “ke belakang” yang belum waktunya keluar.

Tapi sajian mie merupakan sajian paling aman diambil saat memilih menu makanan sebuah tempat. Ini terlepas dari mie instant ya, kan jenis-jenis mie juga banyak yang disajikan di restoran atau warung kaki lima.

Kalau ditanya apakah saya akan berhenti makan mie instant? Mungkin terjadi. Karena ya saya tau itu tidak sehat, tapi masih belum bisa menghentikan seketika untuk “tidak makan mie instant”. Sejauh ini saya cuma bisa mengontrol kuantitas dan intensitas makan mie.

Leave a Reply