Jurnal Digital vs Manual, Tergantung Selera dan Kebutuhan

Beberapa waktu lalu saya sempat menuliskan tentang kebiasaan baru saya, menulis di buku jurnal. Tentu saja banyak teman-teman saya yang bertanya “Mengapa harus di buku?”, “Kenapa harus ribet sih, kan ada aplikasi di hape?”, “Kamu selo banget nulis di buku?”, “Kok ga praktis?”, “Bukannya ada aplikasi digitalnya di laptop atau handphone, kenapa harus nulis?” dan seterusnya.

Pertanyaan sejenis itu sering saya dengar, baik dari orang yang saya jumpai langsung atau melalui jaringan internet. Menurut saya, memilih menggunakan jurnal digital atau manual adalah masalah selera dan kebutuhan. Di postingan sebelumnya sedikit saya jelaskan tentang alasan saya, tapi mungkin belum banyak yang jelas. Jadi mari diperjelas lagi.

Alasan Memilih Buku Sebagai Media Jurnal

jurnal, bullet journal

Inti dari menggunakan metode Bullet Journal ialah dapat menata rencana kegiatan dengan baik, terstruktur, fokus dan lancar. Setelah beberapa bulan menggunakan dengan tujuan tersebut, saya menemukan beberapa alasan mengapa masih tetap ingin mempertahankan buku jurnal:

1. Kepuasan Menggoreskan Pena Pada Buku

Saya tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang dekat dengan seni rupa, jadi terbiasa untuk menggoreskan sesuatu pada sebuah media. Buku merupakan sebuah media yang familiar bagi saya selama ini. Saya merasa mendapatkan kepuasan saat menggoreskan pena pada buku, atau ini terdengar sangat aneh untuk beberapa orang.

Jika ingatan saya tidak salah, selama proses belajar di sekolah dulu, saya lebih dapat mengingat materi mata pelajaran atau mata kuliah jika ditulis ulang ke dalam buku. Saya gemar merangkum buku pelajaran, juga sering membuat catatan mengikuti penjelasan guru atau dosen.

Catatan sekolah dan kuliah saya termasuk detail dan rapi. Menulis di atas kertas merupakan metode mengingat materi belajar saya, membuat catatan rapi membuat saya senang dalam belajar, menambahkan warna dan gambar dalam catatan ialah hobi terselubung saya.

2. Menuangkan Imajenasi dalam Goresan Visual

Buku jurnal saya tidak polos, ada beberapa goresan visual yang dibubuhkan di sana. Saya senang menambahkan doodle atau menyisihkan satu halaman dalam jurnal untuk menggambar. Ini merupakan kelebihan yang belum bisa tergantikan lewat aplikasi digital, menggambar.

Bukan tidak bisa, tapi terbatas. Tidak bisa meletakkan doodle dengan kualitas sama seperti saat saya memegang pensil. Keterbatasan aplikasi dan kualitas gawai pun jadi penghalang. Dari pada saya komplain terus soal ini ya lebih baik tidak saya gunakan.

3. Melepas Stress

Salah satu bagian jurnal saya adalah menuliskan kejadian yang berkesan atau sekalian curhat. Masih terkait dengan dua poin di atas yang jika digabung dapat melepaskan penat saya.

4. Lebih Bebas Mengembangkan Jurnal Sesuai Kebutuhan

Saya sempat membahas sedikit sebelumnya jika bullet journal punya kelebihan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Selain bisa menambahkan gambar, saya juga dapat menambahkan tracker untuk beberapa hal yang ingin dipantau.

5. Merasa Lebih Nyaman dengan Buku Jurnal

Ini alasan yang mutlak, sampai saat ini saya masih merasa sangat nyaman dengan buku jurnal. Jadi belum bisa move one dari buku jurnal. Gimana sih, kalau sudah nyaman kan susah ya.

Buku Jurnal Tidak untuk Semua Orang, Kamu Bisa Memilih Jurnal Digital

Praktis, yes, ini merupakan topik yang kerap disinggung oleh rekan-rekan saya. Namun bagi saya kembali lagi kekebutuhan, dalam porsi saya buku jurnal lebih praktis dari pada aplikasi di handphone. Ini bukan berarti saya tidak menggunakan sama sekali perencanaan secara digital.

Ouw, saya tak menampik kemajuan teknologi membuat kepraktisan itu jadi begitu bermanfaat dalam kehidupan. Saya juga menggunakan Keep dari Google, Google Drive, Kalender Google hingga Trello untuk urusan pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain.

Saya tidak menutup mata dan tetap menggunakan teknologi tersebut untuk kebutuhan tertentu. Karena ketika bekerja dengan orang lain yang berlainan tempat tentu memerlukan media untuk tetap saling memantau kinerja masing-masing atau project bersama.

Sementara buku jurnal lebih untuk mendisiplinkan diri saya, menghindarkan saya dari program procrastination yang acap kali datang lalu menghinggap kemudian menyerap energi untuk produktif. Kembali lagi tergantung tujuan dan kebutuhan.

Ini ada kutipan tentang untuk siapa saja sih buku jurnal itu paling cocok dari Buzzfeed, mungkin kamu satu di antaranya:

  • People who have a million little to-do lists floating around
  • People who like pen and paper to-do lists
  • People who are into goal-setting and habit tracking
  • People who like stationery, journaling, scrapbooking, beautiful pens, etc.
  • People who really love planners
  • People who want to really love planners, or who want to be more organized
  • People who would really like to keep a journal/diary but are having trouble sticking with the habit

Ada banyak orang juga yang menuliskan jika buku jurnal itu tidak begitu efektif bagi mereka. Alasannya beragam, seperti kecepatan tangan menulis sangat lambat ketimbang mengetik; tidak relevan dengan pekerjaannya (biasanya orang yang kerjaannya berhubungan dengan IT); tidak bisa menyimpan data yang berkesinambungan untuk urusan pekerjaan; terlalu ribet harus buka buku.

Dalam blog Joshmedeshki menjelaskan mengapa ia tidak lagi menyentuh buku jurnal. Alasan kurang praktis dan tidak bertalian dengan pekerjaannya yang sangat digital cukup disoroti. Atau seperti alasan yang dituliskan dalam blog.sandglaz.com ini, menyoroti kurang fleksibelnya buku jurnal.

Yah, kembali lagi kepada kebutuhan, jika membutuhkan planner yang bertalian erat dengan pekerjaan maka buku jurnal bisa jadi buka pilihan tepat. Kamu dapat menggunakan jurnal digital untuk mengakomodir segala rencana kegiatanmu.

Jika ingin tetap merasakan sensasi Bullet Journal, kamu dapat mencoba aplikasi Bullet Diary di iOS atau Fill That Bullet di Android. Atau jika telah terbiasa memakai Evernote, bisa juga mengaplikasikan metode Bullet Journal seperti yang dituliskan Makeuseof.

Namun jika ingin mencoba dengan buku tapi malas membuat satu-satu, kamu bisa membeli buku planner di online shop atau toko buku. Semua kembali ke selera, pilihan dan kebutuhan.

Semoga membantu sedikit mencerahkan dalam penjabaran yang belibet di atas ya. Terima kasih banyak dan selamat mencoba 🙂

4 thoughts on “Jurnal Digital vs Manual, Tergantung Selera dan Kebutuhan

  1. Aku anak google Keep. Hahahahahahha

    sempet bikin jurnal (dan semi diary) tapi suka males bawanya. Pada akhirnya balik ke gawai lagi karena udah kebiasaan ngetik. Kelamaan nulis tangan tau-tau tanganku sakit. Kayaknya mulai mau biasain nulis lagi deh. Tapi aku selalu PR nulis jurnal karena suka repot buka-bukanya lagi..

Leave a Reply