Mengadopsi Kucing Kamtomil Yang Jadi Penyemangat Di Rumah

Kabar dan langkah terbaik dari kami di awal 2021 ialah saat mengadopsi kucing baru sebagai teman di rumah. Setelah bergelut dengan perasaan sedih karena kepergian Babang, akhirnya kami sepakat untuk memelihara lagi seekor kucing. Bagi saya sendiri mengadopsi kucing bukan perkara mudah karena tiap punya keinginan ini selalu dihantui perasaan menggantikan Babang dan melupakannya.

Tapi memang kami membutuhkan seekor kucing yang menggantikan fungsi Babang. Kalau menggantikan di hati sih tidak, karena kami akan menambahkan koleksi kesan pada kucing peliharaan di rumah.

Perjalanan Adopsi Kucing Sampai Rumah

Memilih kucing yang akan diadopsi bukan perkara mudah sebenarnya. Kebetulan tidak ada kucing liar yang mau didekati oleh kami selama hampir setahun belakangan, padahal mereka kami rajin beri makan. Saya pikir bagaimana jika menanyakan kepada teman dekat kami apakah ada anak kucingnya yang mau dilepas ke rumah kami?

Ada 3 penawaran adopsi yang datang. Kami prioritaskan yang ditelantarkan di klinik, tapi nyatanya bukan jodoh, karena lebih dari 3 bulan kemudian tak ada kabarnya. Lalu ada dua tawaran teman, satu datang 6 bulan setelah kepergian Babang dan satu datang 1 hari setelah kabar kematian kucing dikabarkan.

Si Kamto waktu masih bayi namanya Chappy, foto by Simplesmich

Berdasarkan urutan penawaran, yang datang sehari setelah Babang pergilah yang akan saya prioritaskan. Meski saya sendiri masih merasa lucu datangnya waktu tawaran itu dan yang saya tahu kucing ini termasuk kesayangan sedari awal lahir. Separohnya saya terharu karena ditawarkan kucing kesayangan terbaiknya untuk kami rawat. Tapi tentu saya menolak kalau sedekat itu waktunya.

Tiba waktu saya dan suami sudah sepakat serta siap hati. Akhirnya saya tanyakan apakah masih mau melepas kucing yang setiap bulan selalu dikirimkan perkembangannya itu. Yang namanya jodoh memang tak lari ke mana, teman saya hanya bertanya apakah saya sudah siap memelihara kucing saja. Setelah itu proses singkat pengantarannya pun segera dilakukan.

Sebelumnya memang sudah mencari ekspedisi Ojackpets yang bisa door-to-door untuk mengantarkan kucing dengan cepat dan selamat dari Solo ke Jogja. Dengan sigap pula teman saya segera membuat janji untuk diantar pada hari Minggu, 11 Oktober 2020. Saya hanya punya waktu kurang dari sepekan untuk menyiapkan wadah pakan dan minum. Bahkan kami baru membeli pasir dan pakannya 2 jam sebelum kedatangannya ke rumah. Semuanya terasa cepat.

Ini foto Kamto masih di dalam kranjang kirimnya pas awal banget datang ke rumah.

Kucingnya berangkat dari rumah jam 10 pagi, sampai di Jogja sekitar jam 12 siang. Kondisinya ketakutan dan syok karena tiba-tiba bangun tidur sudah masuk keranjang, melalui perjalanan panjang, lalu sudah di tempat baru. Namun syukurlah dia termasuk kucing kepo, jadi tak terlalu takut dengan kami, sudah langsung eksplorasi lingkungan barunya.

Sama seperti Babang, kami kenalkan benda ini sebagai cakaran dan langsung dieksekusi hari pertama.

Nama Kamtomil Terinspirasi Dari Apa

Satu waktu kami sangat menikmati teh Kamomil atau Chamomile, saya terpikir untuk memberi nama kucing dengan unsur ini. Dengan harapan dia bisa memberikan efek menenangkan seperti teh Chamomile ini. Tapi sayangnya, nama Chamomile lebih cocok dipakai untuk betina. Sementara kucing saya jantan.

Memutar otak mencari kaya yang memakai Cham atau Kam. Sampai terhenti saat pesan pempek Ny. Kamto. Kenapa tidak saya satukan saja Kamomil dan Kamto, jadi Kamtomil. Yak, penamaannya memang tidak kami pikir terlalu rumit.

Jadilah kucing ini bernama Kamtomil, dengan beragam nama panggilan sesuai kebutuhan kami. Kadang Kamto, kadang Tomil, kadang Kam-Kam, kadang Anto, kadang Tono hahahahahahahahahah. Ini para pemilik anabul pasti paham nama anaknya bisa berubah-ubah tergantung situasinya.

Mengapa Mengadopsi Lagi

Sedari awal memelihara Babang dan tahu dia sakit, kami tahu akan ada waktu berpisah serta tak menutup kemungkinan memiliki kucing baru. Bagi kami, kebutuhan keberadaan kucing di rumah bisa tergantung situasi yang dihadapi.

Pertama, kami sudah siap secara mental untuk memiliki peliharaan baru. Dengan segala konsekuensi merawat setiap detil kegiatannya, memasok pakan, mengantarkan kucing ke dokter, dan banyak hal lainnya. Perintilan perawatannya benar-benar menyita waktu, tenaga, dan uang. Jadi tak semudah asal lucu mari adopsi.

Kedua, situasi rumah memang sudah membutuhkan keberadaan kucing. Rumah kami tidak rapat banget, jadi ada kemungkinan penyusup kecil bisa masuk. Bahkan saat dulu Babang ada dia sudah memberi peringatan akan masuknya ular, dia juga sudah menjalankan tugas menghentikan pergerakan kucing yang berhasil masuk rumah. Setelah sekian tahun menghuni rumah ini, saya paham atap rumah ini rute pengejaran tikus oleh ular dan kucing dan akan terasa saat akhir-akhir tahun.

Benar banget, sebelum Kamto datang, sudah beberapa usaha kami lakukan menghalau kedatangan tikus. Capek banget kejar-kejaran dengan tikus ini. Jadi kami putuskan untuk mempekerjakan kucing saja. Kebetulan kata teman saya, Kamto sering memojokkan hewan-hewan kecil di rumah termasuk tikus.

Ketiga, ini tak terlalu penting sih tapi saya kangen afeksi saat membelai bulu kucing. Di sekitar rumah kucingnya takut dengan manusia, yang ada saya dicakar. Kalau punya sendiri dia tak akan melawan saya dan bisa dibelai kapan saja.

Jadi begitulah cerita saya panjang lebar mau ngomongin kalau saya itu pelihara kucing lagi.

2 comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like
Read More

Settle Down Wingko Babang

Akhirnya, setelah sekian lama terkumpul juga keberanian menuliskan ini di blog. Karena kehilangan tak akan mudah dipulihkan, itu…