pak raden

Pak Raden dan Jejaknya di Masa Kecil Saya

Kabar kepergian Pak Raden pada 30 Oktober 2015 lalu telah ngejutkan banyak pihak, termasuk saya. Tokoh yang saya kenal pertama kali di televisi dengan dandanan beskap dan kumis tebalnya itu ternyata telah berpulang. Saya sedih dan begitu pula yang mengenyam masa bahagia adanya hiburan Pak Raden di waktu kanak-kanaknya. Sejujurnya saya hanya mengenal beliau sejauh layar televisi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Meski hanya sebatas itu, ia begitu berjasa dalam hidup saya.

Pak Raden Mengenalkan Gambar

Ingat Pak Raden, tentu ingat si Unyil. Tokoh rekaan Pak Raden ini menjadi idola saya waktu tahun 90an, kala televisi di rumah tetangga masih hitam putih. Semua orang (saudara dan teman) bercerita betapa bagusnya Si Unyil, dan membuat saya penasaran lalu kemudian menonton (di rumah tetangga). Masa itu, tak ada hal yang lebih futuristik dibandingkan televisi hitam putih. Iya, saya sudah bahagia menyaksikan acara itu.

Salah satu segmen yang muncul adalah menggambar! Dan Pak Raden jadi pengisi acaranya. Waktu itu, saya (mungkin sama seperti anak lain) terpukau dengan persona beliau yang tak bisa terbantahkan. Pria bernama asli Raden Suyadi itu mengenakan beskap hitam dengan kumis dan alis hitam legam setajam warna arang. Woaaaaaaaa… ya itu respon pertama saya ketika menyaksikan acara beliau.

pak raden

Pada acara itu ia memperagakan cara menggambar, dan sumpah bagi saya cara menggambarnya ajaib. Lucunya, saya sampai berkaca-kaca saat ikutan menggambar dengan caranya, karena saya bisa menghasilkan gambar (hampir) mirip! Saat itu, saya masih piyik dan tak tau apa kegemaran atau hobi yang harus ditekuni. Kata-kata dan caranya mendongeng saat menggambar membuat saya percaya jika “menggambar bukan hal yang memalukan untuk ditekuni”.

Sejak saat itu saya pun merengek kepada orang tua untuk diajarkan menggambar secara privat. Atau mungkin karena saya terlalu sering mencoret segala sudut rumah yang kosong membuat orang tua kewalahan hingga akhirnya disekolahkan menggambar. Meski pada akhirnya saya merasa kurang cocok dengan metode pengajaran guru privat tersebut, dan memilih menghafalkan cara-cara Pak Raden menggambar. Sampai pada waktu saya sudah tidak hafal lagi jadwal penayangan acara tersebut di televisi.

Pak Raden Mengajarkan Bercerita

Siapa sangka, peran beliau di masa kecil begitu banyak. Selain mengajarkan cara menggambar yang mudah dan meletupkan semangat untuk menggaris ia juga mengenalkan cara bercerita. Dalam tayangan tersebut, Pak Raden selalu mendongeng. Dari sana, saya melihat jika seorang Pak Raden yang saya kenal pandai menggambar juga bisa membuat cerita menarik.

Namanya anak kecil, segala hal yang menurutnya menarik pasti akan ditiru bukan. Cara beliau bertutut dan memberikan semangat selalu membuat saya terkesima serta tak merasa malu. Ia, jangan malu dengan keahlian sekecil dan sesederhana apapun itu. Saya mulai penasaran dengan bahasa, bisalah bilang pelajaran Bahasa Indonesia saya bagus kala itu.

Saya berani membuat karangan dan mengeksplor berbagai hal terkait bahasa. Hingga berujung pada rasa penasaran yang lebih besar, melahap banyak bacaan. Kata beliau, belajar membaca tak melulu dari buku anak-anak, bisa juga baca koran atau majalah lain. hahahaha…sekali lagi namanya anak-anak.

Pedoman Penuh Jasa

Saya ingin mengenang beliau dengan hal-hal baik yang mungkin diamini oleh banyak orang. Beliau mengajarkan tentang budi pekerti, semangat memulai suatu hal, berkarya lewat seni hingga meletakkan jejak pada bait-bait kata. Pernah bertemu dengan beliau pada suatu acara dan saya mau menangis. Rasanya senang sekali bisa melihat orang yang mengubah masa kecilmu lebih berwarna dan penuk kreasi. Melihat orang yang berjasa meletupkan semangat seni saya, hingga berani bersekolah di desain dan mengambil pekerjaan sebagai penulis.

Gambar saya memang masih jauh dari indah jika dibandingkan dengan karya Pak Raden. Tulisan saya mungkin masih jauh dari bagus jika dibandingkan dengan gubahan beliau. Dan cara bertutur saya juga jauh dari sopan jika dibandingkan dengan Pak Raden. Tapi, saya berterimakasih pernah menjalani masa kanak-kanak yang begitu menyenangkan ketika ia menjadi pembawa acara di televisi.

Pak Raden merupakan pedoman penuh jasa bagi hidup saya, ia pernah ada pada masa kanak-kanak sebagai sosok yang saya hormati. Karena saya mungkin tak berani menggambar dan menulis hingga sekarang jika tak menyaksikan acaranya.

Terimakasih Pak Raden ­čÖé

 

Leave a Reply