Sehat Itu Mahal

Sudah lama ga ngeblog, kali ini nyoba nge-blog lagi. Mau membagi kisah rantau aja ah.
Siapa yang tak mendambakan kesehatan dalam hidupnya? Sudah pasti tak ada yang mau menjawab mereka mau hidup dalam keadaan sakit.

Alkisah,
Alkisah sebuah masa di mana seorang anak tengah merantau ke ujung barat pulau Jawa dalam sebuah kota yang disebut-sebut sangat keras. Ah ya sudah, ceritanya saya mau cerita kala masa berada di Jakarta dan berhadapan dengan kondisi di mana kesehatan jadi barang langka. Jadi isinya ga cakep deh…

Jadi, selama masa bulan Juli-Agustus merupakan masa rentan saya terserang sakit ternyata.
Salah satunya adalah sakit gigi, sebenarnya dimulai dari sebuah keluhan kecil yang sudah lama dirasakan. Eaak, bagi beberapa orang yang kerap berkomunikasi dengan saya pastinya tak asing dengan keluhan sakit gigi. Pada awalnya memang cuma senut-senut biasa, dan saya masih bisa bilang “Lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi”. Kemudian gigi geraham bungsu ini mulai berulah, ia jadi makin rentan dan mulai mengeropos dengan cantiknya yang kemudian berakibat pembengkakkan. Nah dari sini rasa sakit itu sudah mulai merong-rong ketenangan. Sampai pada titik “Lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi, sakit hati masih bisa makan dan senang-senang, sakit gigi pengen matahin muka orang”. Pembengkakkan demi pembengkakkan dan pengeroposan demi pengeroposan tetap dibaikan.

Hingga suatu saat menjelang puasa, terbersit keinginan untuk menyudahi rasa sakit yang berkala datangnya. Ya ceritanya sih cabut gigi itu, dengan sangat drama dan susah payah sang dokter akhirnya berhasil mencabut gigi unyu itu. Sekali ini saya mendapati bahwa, gigi saya terlambat, seharusnya dicabut dari dulu. Kurangnya perhatian terhadap kesehatan gigi ini lumayan menyiksa diri dan …..kantong. Sebenarnya pergi ke dokter gigi tidaklah buruk, cuma dental unitnya aja yang bikin serem. Rasa sakit setelah cabut gigi juga tak seberapa jika dibandingkan ketika sakit giginya kumat.

Masa penyembuhan setelah cabut gigi, ternyata malah kena sakit lain. Katanya sih gak afdol kalo ga kena Tipus selama di rantau. Dem, entah siapa yang bilang seperti itu, tapi kalau sakitnya pas di Jakarta itu bukan sesuatu hal yang bisa ditoleransi. Berawal dari diagnosa tekanan darah yang turun diiringi dengan demam hebat tiap malam. Lalu …muncullah bercak merah di tangan yang memudar jika dipegang (yang ini aku curiga aku kena cacar juga).

Lalu ceritanya saya menuju ke rumah sakit yang sebenarnya menjadi sebuah pantangan besar periksa ke tempat itu. Karena saya tau jika harga yang harus dibayar untuk cek ke dokter saja bisa membuat bokek anak kos yang merantau ini. Tapi karena tanda-tandanya agak mengkhawatirkan (khawatir kena demam berdarah), maka dengan berat kantong pun masuk dan periksa diri. Entah ini dokternya ga yakin atau gimana jadilah cek darah dan hasilnya saya kena Tipus.

Senyum segera saya lempar kepada dokter, senyum paling manis di mana hati pun menangis saat yang sama. Terpikir bagaimana caranya saya harus sembuh tanpa mencekik kantong. Sebuah tips yang mungkin tidak saya sarankan adalah menolak rawat inap, karena biaya di jakarta tidak ramah. Dengan segala alasan yang membabi buta pun akhirnya sang dokter menyerah, itu kan hak pasien menolak sesuatu. Lalu tips lain, segera meminta OBAT GENERIK, saat sang dokter sedang menulis resep. Harganya bisa 3x lebih murah dari harga obat bermerek yang biasa diberikan.

By the end…. tetep mahal. hahahahahhahahahahaha
Selama masa penyembuhan tipes dan sakit gigi ini saya menyadari jika sehat itu mahal ya. Saya benar-benar merindukan bagaimana bahagianya bisa makan daging, sayur atau makanan pedas. Cuma bisa makan makanan yang empuk itu gak enak.

Sehat itu mahal namun sering diabaikan hingga ia datang menghampiri

Memang benar adanya kalimat itu.
Jadi sebenarnya saya cuma mau cerita keluh kesah mahalnya sakit kalo di jakarta sih. Sungguh gak penting banget kan? hahahahahhaa
🙂

Leave a Reply