DIY Wedding: Persiapan Baju Pengantin

Beralih pada topik yang kerap jadi perdebatan panjang seorang wanita dengan diri sendiri, pasangan atau orang tua. Baju pengantin merupakan komponen yang harus disiapkan dengan hati-hati, penuh perhitungan dan pertimbangan.

Tak jarang keinginan memiliki baju model tertentu malah berbenturan dengan aturan; keinginan; harapan dari pihak lain. Jangankan model, bahkan warna baju saja bisa jadi panjang pembahasannya. Inilah pentingnya tegas dalam mengambil keputusan, punya gambaran jelas soal baju yang ingin dipakai, dan tahu benar celah kompromi.

Memastikan Baju Pengantin dengan Kompromi

Betul kompromi. Jika dalam proses pemilihan baik model dan warna mengalami hambatan, manfaatkan kompromi. Tentunya kamu juga ingin tampil gemilang di acara pernikahan dengan baju impianmu. Mintalah pendapat orang-orang yang terlibat dalam persiapan ini, renungkan pendapatnya, eliminasi yang terlalu membebani.

Dalam sebuah rentetan acara penikahan, seorang pengantin bisa mengenakan lebih dari satu baju. Ini bisa jadi celah bagus untuk mengaplikasikan harapan dan keinginan dari pihak orang tua atau diri sendiri untuk baju pernikahan.

Tapi di atas itu, kamu harus memastikan juga baju yang dikenakan pas dan nyaman. Pemilihan bahan dan bentuk baju tak boleh membuatmu merasa kurang nyaman. Ingatlah saat nanti memakai baju itu kamu juga membawa perasaan gelisah; deg-degan; grogi lho.

Menyiapkan Baju Pengantin

Kain merupakan hal yang pertama dipilih, saya tak mau memakai baju gerah. Saya menyempatkan pergi ke Pasar Mayestik untuk mencari bahan lace atau brokat baju pengantin. Ada banyak model brokat dari yang sederhana hingga rumit, pilihan saya jatuh pada tipe brokat Jepang berwarna putih gading bermotif bunga sedang.

Karena saya tak bisa menjahit baju, maka pengerjaannya diserahkan pada penjahit di pasar Mayestik. Kebetulan saya hanya menggunakan satu jenis baju pengantin saja, ini mengurangi keribetan bolak balik ke penjahit. Berurusan dengan penjahit itu butuh kekuatan ekstra!

Permintaan saya sederhana saja, baju pengantin tidak terlalu pas badan banget, lapisan dalam menyatu jadi tak perlu menggunakan baju pelapis, kerah agak tinggi dan sedikit aplikasi pada bagian belakang. Sesederhana itu saja masih pakai salah kok, hahahahaha.

Yang perlu kamu siapkan kalau masuk ke penjahit adalah rajin menanyakan progres. Tapi saya juga berikan informasi kurang tepat mengenai kapan acaranya. Hal tersebut disebabkan kebanyakan penjahit akan mengerjakan baju dekat-dekat waktu acara, jadinya kurang maksimal, dan kalau sudah kepepet kamu akan terpaksa menerima hasil alakadarnya.

Sejak tahu jurus wayangan penjahit ini, saya memberikan tenggat waktu jauh bulan dari yang seharusnya. Tapi jika sudah langganan, mungkin beda perkara ya.

Apabila kamu tak punya banyak waktu dan tenaga menghadapi penjahit, cara paling gampang ialah menyewa baju pengantin. Biasanya para perias pengantin sudah memiliki persediaan baju-baju pengantin yang siap disewakan. Manfaatkan itu jika kamu tak ingin mengikuti drama penjahit baju.

DIY Kerudung Pengantin

Saya punya kiblat pakaian pengantin yang sebenarnya sedikit merepotkan diri sendiri. Baju brokat tertutup, pengaplikasian jilbab yang sederhana tanpa diubet-ubet atau dililit cantik, dan menggunakan kerudung pengantin.

Untuk kerudung pengantin ini saya punya cita-cita menggunakan hasta karya sendiri! Oleh karena itu sejak awal sudah memilih brokat dengan kualitas dan pola tertentu. Untuk membuat kerudung ini hanya berbekal kain ceruti berbentuk lingkaran, brokat, benang dan manik-manik.

Brokat terlebih dahulu dipotong mengikuti pola bunga, kemudian diatur membentuk pola baru di atas ceruti. Yang utama adalah pola pada kepala dan ekor, disusul dengan meletakkan brokat pada pinggir dan sedikit di tengah.

Menjahitnya membutuhkan ketelatenan tersendiri, saya menggunakan waktu akhir pekan dan setiap malam sebelum tidur untuk menyelesaikan jahitan. Saya bukan profesional, jadi hanya berbekal ini brokat harus nempel.

Kemudian memasangkan manik-manik. Selama mengerjakannya, saya jadi paham betapa sulitnya memasang manik-manik. Terlebih karena area yang harus saya pasang cukup banyak untuk seorang pemula. Penambahan manik-manik ini untuk memberikan efek jatuh pada kerudung.

Oh tenang, ini gagal kok. Saya tidak berhasil menyematkan ke seluruh area yang diharapkan. Tapi paling tidak area penting telah berhasil dipasang manik-manik. Dan saya puas dengan veil hasil karya tangan sendiri!

Begini kira-kira penampilan saya dari belakang dengan veil kebanggan. Difoto oleh teman saya Nonamerah.

Itu tadi sedikit cerita tentang proses baju pengantin yang saya lakukan selama di Jakarta di sela-sela kesibukan kerja. Kamu bisa ikut buat DIY juga, tapi jika tak mau repot pilihlah persewaan baju pengantin.

Leave a Reply